Hai,....
Bagaimana kabarmu hari ini?
Semoga baik-baik saja ya.
Mungkin akhir-akhir ini kita jarang berkomunikasi lagi. Ya aku tau kamu sedang sibuk dengan karirmu dan aku sedang sibuk dengan skripsiku. Aku sengaja tidak sering menghubungimu agar tidak menggangu waktumu. Semoga karirmu lancar ya.

Aku senang mengenalmu. Seseorang yang banyak menginspirasiku. Kita sama-sama bertekad untuk berbagi kebaikan lewat tulisan. Tulisan yang menggerakkan hati setiap insan.

Sejujurnya dalam diam ada rasa yang tidak karuan. Ada gejolak yang berusaha ku tahan agar tak membuatmu terlenakan. Aku tidak ingin menjadi batu penghalang perjalanan karir dan kesuksesanmu. Sehingga aku memilih diam memendam semua perasaan yang meraung dalam keheningan.

Ya dulu kita memang sebatas berteman. Lalu kita menemukan hobi yang sama, saling mengajari, saling menginspirasi dan saling menyemangati. Perlahan ada perasaan yang tak wajar sebagai seseorang teman.

Maaf ya aku mengharapkanmu, 
Aku mengharapkanmu kelak kan melengkapi separuh agamamu, menjadi ibu yang baik bagi anak-anak kita. Aku tau kamu orang baik, cerdas dan taat beragama.

Namun, terkadang ada rasa minder dalam diriku. Sadar diri kamu selalu bertemu dengan orang-orang hebat. Sedangkan diriku masih remahan deterjen. Tapi aku tidak ingin menjadi orang yang lemah. Aku selalu berusaha memperbaiki diriku. Mempelajari skill baru yang berguna bagi masa depanku.

Terkadang aku takut kecewa oleh harapanku. Khawatir jika aku terlalu mengharapkanmu sedangkan engkau tidak berjodoh denganku.

Aku belajar untuk menetralkan perasaan ini. Belajar agar semua tetap terkendali. Aku takut melukai pertemanan kita.
Biarlah kini aku menyimpan semua perasaan ini. 

Jika memang kita berjodoh semoga kita bisa sama-sama menjaga kesucian perasaan ini sama akad itu terucap.

Jika kita tak berjodoh semoga aku bisa mengikhlaskanmu.

Satu doaku, semoga siapapun yang akan mendampingimu nanti bisa membimbingmu menuju surga-Nya. 

Aamiin